Friday, October 20, 2006

Ratapan Kuningan

Oh Kuninganku...
Dulu...kau tidak pernah macet
Sekarang...kau tidak pernah tidak macet

Tapi...
Hari ini aku kembali mendapatkan Kuninganku!!!
Di 3 hari menjelang Lebaran
Boleh engga ya kalo Jakarta terus-terusan Lebaran?

Hehehehe...

Wednesday, October 18, 2006

Rumah Itu...Hidup Ini...Cinta?


Tadi malam seorang teman bercerita bahwa salah satu teman angkatannya di kampus mengalami perceraian. Gayung bersambut...cerita ini pun memicu kisah lain dari teman yang lain. Topik bergulir ke arah kenapa semakin banyak terjadi perceraian akhir-akhir ini, bukan cuma pada selebritis tapi juga teman-teman kita sendiri.

Pagi ini, percakapan itu masih berputar-putar di kepala saya (apalagi didukung dengan soundtrack yang 'kebetulan' pas). Dalam mobil ber-AC, mendadak saya kepanasan dan keringat dingin, dengan pikiran berkecamuk engga keru-keruan. Keresahan menyusup, ketakutan menghantui akan ketidakmampuan melanjutkan langkah.


Ternyata cinta tidak bisa berbuat banyak ketika kita sudah memasuki rumah yang namanya perkawinan, tapi justru sekarung pemahaman, sumur toleransi dan segudang komunikasi berkualitas yang bisa menyelamatkan rumah itu dari keruntuhan. Sebagai manusia yang setiap hari berhubungan dengan orang banyak, seakan-akan mudah buat kita untuk "merasa" mampu melakukan. Ketika kebutuhan hidup semakin tinggi, baik suami maupun istri harus sama-sama bekerja untuk bisa memenuhi kebutuhan (coz we've got bills to pay!), ditambah dengan kemacetan kota ini yang semakin lama semakin tidak bisa diterima akal sehat (mengutip Dee Lestari, yang dikutip temanku tadi malam, "Terkutuklah Jakarta yang membuat penduduknya tua di jalan"), kehadiran anak tercinta yang sangat menyita perhatian, kepusingan pekerjaan yang bisa membuat kita jadi autis mendadak, habislah sudah semua energi yang kita punya. Tak ada yang tersisa untuk mendengarkan keluhan pasangan tersayang dan meladeni egonya. Sounds cliche...but that's the reality bites that we have to live with. Hanya kita yang bisa menentukan apakah cinta itu akan mati.


Buang semua puisi antara kita berdua

Kau bunuh dia

Sesuatu yang kusebut itu cinta
(Hapus Aku - Nidji, Breakthru 2006)


Thursday, October 12, 2006

...Dan Mereka Terus Berjuang


Rokok
terselip di antara jari-jarinya dihisap dalam-dalam. Dia melirik jam di pergelangan tangan kirinya, memperhitungkan waktu yang tersisa, sambil menyeruput Coca-Cola dingin. Tak lama sang MC pun menyebutkan acara berikutnya, segera dia mematikan rokok dan meraih tongkat. Dengan bertumpu pada kedua tongkatnya, dia berjalan tertatih menuju panggung dengan tenang. Memilih tempat duduk di atas amplifier, dia bersiap dengan mic andalannya dan menunggu aba-aba dari teman yang lain. Mulutnya membuka, dan suara merdunya pun meneriakkan "Terajanaaaaaaa...."

Dia mampu menyetir mobilnya sendiri dengan bantuan kedua tongkatnya, fasih memegang dan
menyalakan rokok diantara jari-jarinya yang tidak sempurna. Dengan mukanya yang cukup ganteng, dia termasuk cowok playboy, apalagi didukung suara yang yahud. Dia tidak menepis bantuan orang lain, tetapi juga tidak bergantung mencari bantuan.

Hebatnya lagi, dia tidak sendirian. Kita bisa mengagumi keindahan karya seorang pelukis yang memegang kuas dengan jari-jari kakinya. Salah satu teman perempuanku, yang dengan penuh kegigihan berjuang dengan sebuah kakinya yang lebih pendek, hidup sendiri di negara orang sejak umur 15 tahun. Seorang bapak dengan penuh kesabaran menuangkan kuah sop ke dalam mangkuk-mangkuk, menjepit centong di sela jarinya yang tak lengkap.

...dan mereka terus berjuang


Tuesday, October 10, 2006

Another 1st Day

Hari pertama di kantor baru
Kali kedua dalam tahun ini saya duduk di sebuah meja kosong di hari pertama
Kali ketiga dalam kurun waktu 1 tahun
Hmmm...prestasi yang tidak bisa dibanggakan menurut saya

Tapi ada prestasi yang bisa dibanggakan pada hari ini. Setelah bertahun-tahun, akhirnya saya berhasil hadir di pintu depan kantor saya pada pukul 8 pagi. Pagi ini saya habiskan untuk mengisi berlembar-lembar formulir HRD
Kebagian jatah 1 buah telepon genggam baru berteknologikan CDMA dan kartunya (ternyata jadi karyawan bukan berarti dapet nomer cantik bo!). Diantar ke meja saya, di pojok sederetan meja-meja dan masih kosong melompong...no computer, no internet (untung saya inisiatif untuk bawa laptop). Kemudian keliling dan naik turun beberapa lantai untuk diperkenalkan dengan orang-orang (yang namanya tidak ada yang nyangkut satupun di kepala saya)

Satu-satunya orang yang namanya saya ingat adalah partner saya di departemen yang sama (yang sudah di-abuse oleh bos India saya duluan). Sempat mengobrol sekitar 10 menit dengan Aryo (that's his name) dan mendapat kabar bahwa bos saya tidak masuk hari ini. Akhirnya saya duduk di hadapan meja baru, membuka laptop saya dan mengeluarkan handset CDMA Flexy saya (padahal ini kan kantor kompetitor hehe) dan mulai berinternet dengan account saya. Dalam waktu 15 menit, pulsa saya habis...dan saya engga ada kerjaan lagi.

Setelah tanya-tanya beberapa kali, saya berhasil mendapatkan segelas air putih dan tempat untuk ngerokok satu batang . Coba buka game baru saya, Cake Mania, dan main cuma 2 menit, karena tidak enak hati sama orang-orang sibuk di sekeliling saya. Memandang iri kanan kiri saya yang saling mengobrol dan keluar masuk ruang meeting. Mulai berusaha memikirkan pekerjaan yang lain (side job maksudnya), akhirnya saya sempet berkiriman SMS dengan beberapa orang. Kembali membereskan phonebook di handphone GSM saya yang baru, yang engga lama kemudian abis baterenya

Jam laptop, hanphone dan tangan saya mulai menunjuk angka 12. Turunlah saya...dan makan siang mie ayam sendirian, tambah es kelapa dan mizone (yang kemudian ketinggalan di toilet). Kembali ke meja kosong (ada isinya sih..laptop saya, tas laptop dan tas tangan..titik). Habislah sudah setengah hari saya

Setengah hari lagi...
Mungkin bisa kenalan sama meja sebelah