Monday, September 05, 2005

Sahabat Sejatiku

Sahabat sejatiku, hilangkah dari ingatanmu
Di hari kita saling berbagi
Dengan kotak sejuta mimpi
Aku datang menghampirimu
Kuperlihatkan semua hartaku

Kita slalu berpendapat
Kita ini yang terhebat
Kesombongan di masa muda yang indah
Aku raja kau pun raja
Aku hitam kau pun hitam
Arti teman lebih dari sekedar materi

Pegang pundakku jangan pernah lepaskan
Bila ku mulai lelah... lelah dan tak bersinar
Remas sayapku, jangan pernah lepaskan
Bila kuingin terbang... terbang meninggalkanmu

Ku slalu membanggakanmu, kaupun slalu menyanjungku
Aku dan kamu darah abadi
Demi bermain bersama, kita duakan segalanya
Merdeka kita, kita merdeka

Tak pernah kita pikirkan
Ujung perjalanan ini
Tak usah kita pikirkan
Akhir perjalanan ini
Tak usah kita pikirkan
Ujung perjalanan ini

(Sheila On 7, Kisah Klasik Masa Depan)

Friday, September 02, 2005

…Perkenalkan Lagu Cintaku

Seberapa hebat kau untuk kubanggakan
Cukup tangguhkah dirimu untuk slalu kuandalkan
Mampukah kau bertahan dengan hidupku yang malang
Sanggupkah kau meyakinkan di saat aku bimbang
(Seberapa Pantas – Sheila On 7, 2001)



Entah sudah keberapakalinya aku terinpirasi oleh Sheila On 7. Dengan liriknya yang berpuisi, lagu-lagu Sheila On 7 membawaku memoriku yang pendek ini ke dalam fragmen kehidupanku.
Aku ingat ketika pertama kali memutarkan Seberapa Pantas di jam siaranku. Liriknya membuat aku jatuh cinta seketika dan langsung aku kutip untuk teman mayaku. Di masa ketika rasa cinta itu masih sedemikian besarnya.

Empat tahun kemudian, lagu cinta itu membuat aku menangis...dan aku pun dipeluk oleh pacarku. Bukan...bukan cinta kepadanya yang menjadi masalah. Tapi justru kecintaanku terhadap tempat yang sudah mengajarkan aku, menunjukkan kepadaku, dan memberikan kepadaku jalan untuk menjadi orang hebat. Air mata ini aku persembahkan kepada radioku tercinta...Radio Prambors.

Di hari yang sama, bosku memanggil dan mengajakku ngobrol sehubungan dengan surat pengunduran diriku 3 hari yang lalu. Dia bilang bahwa dia sangat percaya pada aku, bahwa aku adalah tangan kanannya, bahwa aku adalah orang yang dia andalkan dan dia ingin memindahkan seluruh ilmunya kepadaku. Dia pun berpesan bahwa dia akan selalu merasa bangga padaku, apapun keputusanku nantinya. Kata-katanya menorehkan luka, kekecewaan di matanya menghantam kepercayaan diriku, dan pemahamannya terhadap masalah yang kuhadapi memperbesar rasa sayangku. Goyahkah aku? I don’t know...

Lagu ini menusukku dengan rasa bersalah. Aku tahu persis, masalah yang aku hadapi, aku rasakan dan aku jadikan alasan, juga masalah yang sedang dihadapi oleh tempat yang aku cinta dan orang-orang yang aku sayang. Tapi aku...aku yang tidak mampu bertahan di kala hidupnya menjadi malang. Aku tidak sanggup meyakinkan, bahkan pada diriku sendiri, ketika dia diombang-ambing kebimbangan.

Kesombongan masa muda membuat aku merasa sudah menjadi orang hebat untuk tempat ini. Tapi, ketika dia sedang membutuhkan genggaman tanganku menjadi lebih kuat, aku justru menarik jari-jariku agar tidak terjebak. Ternyata, aku tidak cukup tangguh untuk membela dan menyelamatkan rasa cintaku...dan aku sama sekali tidak hebat.


Kau ajarkan aku bahagia, kau ajarkan aku derita
Kau tunjukkan aku bahagia, kau tunjukkan aku derita
Kau berikan aku bahagia, kau berikan aku derita...
(Berhenti Berharap – Sheila On 7, 2004)