Friday, January 27, 2006

It's Been A Long Time

Hai my blog!

How are u...???
Long time no see...

Udah lama juga ya engga ngisi blog gue ini
Padahal beberapa hal sudah berubah dalam kehidupan gue
Padahal beberapa pandangan gue mengenai kehidupan ada yang berubah
Padahal kegelisahan sedang menghantui kehidupan gue

Tapi kenapa blog gue tetep kosong ya?

Saturday, October 15, 2005

Pengalaman Pertamaku

Bandung, 13 Oktober 2005, dini hari

Dini hari di Bandung, gue mendapat sebuah pengalaman baru. Diawali dengan pengalaman kedua gue...naik MoGeBaJu, a.k.a Motor Gede Barang Jualan salah satu teman, dengan kecepatan tinggi. Bermodal helm pinjaman, berangkatlah kami dengan 3 motor. Udara dingin Bandung yang baru tersiram hujan menerpa pipi dan membuat mata gue berair. It’s an adrenaline rush my friend.

Target lokasi adalah Jalan Dago. Ketiga motor mengarah menuju bawah jembatan layang (pertama di Bandung)...tempat nongkrongnya anak-anak motor Suzuki!!! Jadilah kami berenam ikutan duduk di trotoar ditemani rokok, teh jahe dan jaket yang dikancing rapat. Inilah pengalaman pertamaku...nongkrong bersama geng motor!

Ternyata bukan cuma gue yang mengalami pengalaman pertama pagi hari ini. Ketiga temanku yang lain juga sibuk mengagumi suasana baru ini. Bahkan salah satu temanku mengaku bahwa selama 8 tahun dia merantau di Bandung (maklum, Medan Tembak Langsung nih!), baru sekali ini dia nongkrong bareng geng motor. Padahal kami semua termasuk orang-orang yang seringkali menyumpahi geng motor model gini, gara-gara mudah sekali memicu pertengkaran dengan mereka.

Tapi pengalaman ini membuka point of view baru buat kami. Setiap ada orang dari geng yang baru datang ke tempat tsb, mereka pasti menyalami kami dan mengajak berkenalan muka-muka tidak familiar ini. Cara bersalamannya pun khas, menyalami kemudian menggenggam. Resmi sudah…kami menjadi bagian dari brotherhood hehehe.

Masih terekam dalam ingatanku, pemandangan dari bawah jembatan dan becandaan jail kami tentang mobil pemabuk yang terbang dari jembatan dan menjatuhi kami. Juga pemandangan lalu lintas Jalan Dago dari ‘jongkok’ view. Sepulangnya dari sana, kami pun mendapat predikat baru sebagai anak nongkrong geng motor .

Wednesday, October 12, 2005

Seminggu Lewat

Bandung, 12 Oktober 2005

Udara dingin kota Kembang bertiup menusuk tulang. Bandung, sekali lagi, menjadi kota pelarian gue dari keruwetan kepala gue. Tempat gue mencari suasana, menggali inspirasi dan membuat hati menjadi lebih santai.

Seminggu lewat sudah gue menikmati hidup sebagai seorang pengangguran. Walaupun semua orang komentar terhadap keceriaan dan kesegaran wajah dan gestur gue, tapi tidak seluruhnya berbanding lurus dengan isi otak gue. Berbagai rencana tertanam di kepala, dan belum satupun yang gue jalankan. Frustasi, yang lebih didominasi oleh rasa kesal pada diri sendiri, membuat gue melihat cermin dengan pesimis. But hey...what the hell! This is the road that I chose, and I don’t regret it. Pengalaman ini membuat gue lebih menghargai sebuah aktifitas bekerja sebagai ritme kehidupan gue…bagaikan alat support jantung yang membuat detaknya menjadi lebih kuat.

Monday, September 05, 2005

Sahabat Sejatiku

Sahabat sejatiku, hilangkah dari ingatanmu
Di hari kita saling berbagi
Dengan kotak sejuta mimpi
Aku datang menghampirimu
Kuperlihatkan semua hartaku

Kita slalu berpendapat
Kita ini yang terhebat
Kesombongan di masa muda yang indah
Aku raja kau pun raja
Aku hitam kau pun hitam
Arti teman lebih dari sekedar materi

Pegang pundakku jangan pernah lepaskan
Bila ku mulai lelah... lelah dan tak bersinar
Remas sayapku, jangan pernah lepaskan
Bila kuingin terbang... terbang meninggalkanmu

Ku slalu membanggakanmu, kaupun slalu menyanjungku
Aku dan kamu darah abadi
Demi bermain bersama, kita duakan segalanya
Merdeka kita, kita merdeka

Tak pernah kita pikirkan
Ujung perjalanan ini
Tak usah kita pikirkan
Akhir perjalanan ini
Tak usah kita pikirkan
Ujung perjalanan ini

(Sheila On 7, Kisah Klasik Masa Depan)

Friday, September 02, 2005

…Perkenalkan Lagu Cintaku

Seberapa hebat kau untuk kubanggakan
Cukup tangguhkah dirimu untuk slalu kuandalkan
Mampukah kau bertahan dengan hidupku yang malang
Sanggupkah kau meyakinkan di saat aku bimbang
(Seberapa Pantas – Sheila On 7, 2001)



Entah sudah keberapakalinya aku terinpirasi oleh Sheila On 7. Dengan liriknya yang berpuisi, lagu-lagu Sheila On 7 membawaku memoriku yang pendek ini ke dalam fragmen kehidupanku.
Aku ingat ketika pertama kali memutarkan Seberapa Pantas di jam siaranku. Liriknya membuat aku jatuh cinta seketika dan langsung aku kutip untuk teman mayaku. Di masa ketika rasa cinta itu masih sedemikian besarnya.

Empat tahun kemudian, lagu cinta itu membuat aku menangis...dan aku pun dipeluk oleh pacarku. Bukan...bukan cinta kepadanya yang menjadi masalah. Tapi justru kecintaanku terhadap tempat yang sudah mengajarkan aku, menunjukkan kepadaku, dan memberikan kepadaku jalan untuk menjadi orang hebat. Air mata ini aku persembahkan kepada radioku tercinta...Radio Prambors.

Di hari yang sama, bosku memanggil dan mengajakku ngobrol sehubungan dengan surat pengunduran diriku 3 hari yang lalu. Dia bilang bahwa dia sangat percaya pada aku, bahwa aku adalah tangan kanannya, bahwa aku adalah orang yang dia andalkan dan dia ingin memindahkan seluruh ilmunya kepadaku. Dia pun berpesan bahwa dia akan selalu merasa bangga padaku, apapun keputusanku nantinya. Kata-katanya menorehkan luka, kekecewaan di matanya menghantam kepercayaan diriku, dan pemahamannya terhadap masalah yang kuhadapi memperbesar rasa sayangku. Goyahkah aku? I don’t know...

Lagu ini menusukku dengan rasa bersalah. Aku tahu persis, masalah yang aku hadapi, aku rasakan dan aku jadikan alasan, juga masalah yang sedang dihadapi oleh tempat yang aku cinta dan orang-orang yang aku sayang. Tapi aku...aku yang tidak mampu bertahan di kala hidupnya menjadi malang. Aku tidak sanggup meyakinkan, bahkan pada diriku sendiri, ketika dia diombang-ambing kebimbangan.

Kesombongan masa muda membuat aku merasa sudah menjadi orang hebat untuk tempat ini. Tapi, ketika dia sedang membutuhkan genggaman tanganku menjadi lebih kuat, aku justru menarik jari-jariku agar tidak terjebak. Ternyata, aku tidak cukup tangguh untuk membela dan menyelamatkan rasa cintaku...dan aku sama sekali tidak hebat.


Kau ajarkan aku bahagia, kau ajarkan aku derita
Kau tunjukkan aku bahagia, kau tunjukkan aku derita
Kau berikan aku bahagia, kau berikan aku derita...
(Berhenti Berharap – Sheila On 7, 2004)