Saturday, October 15, 2005

Pengalaman Pertamaku

Bandung, 13 Oktober 2005, dini hari

Dini hari di Bandung, gue mendapat sebuah pengalaman baru. Diawali dengan pengalaman kedua gue...naik MoGeBaJu, a.k.a Motor Gede Barang Jualan salah satu teman, dengan kecepatan tinggi. Bermodal helm pinjaman, berangkatlah kami dengan 3 motor. Udara dingin Bandung yang baru tersiram hujan menerpa pipi dan membuat mata gue berair. It’s an adrenaline rush my friend.

Target lokasi adalah Jalan Dago. Ketiga motor mengarah menuju bawah jembatan layang (pertama di Bandung)...tempat nongkrongnya anak-anak motor Suzuki!!! Jadilah kami berenam ikutan duduk di trotoar ditemani rokok, teh jahe dan jaket yang dikancing rapat. Inilah pengalaman pertamaku...nongkrong bersama geng motor!

Ternyata bukan cuma gue yang mengalami pengalaman pertama pagi hari ini. Ketiga temanku yang lain juga sibuk mengagumi suasana baru ini. Bahkan salah satu temanku mengaku bahwa selama 8 tahun dia merantau di Bandung (maklum, Medan Tembak Langsung nih!), baru sekali ini dia nongkrong bareng geng motor. Padahal kami semua termasuk orang-orang yang seringkali menyumpahi geng motor model gini, gara-gara mudah sekali memicu pertengkaran dengan mereka.

Tapi pengalaman ini membuka point of view baru buat kami. Setiap ada orang dari geng yang baru datang ke tempat tsb, mereka pasti menyalami kami dan mengajak berkenalan muka-muka tidak familiar ini. Cara bersalamannya pun khas, menyalami kemudian menggenggam. Resmi sudah…kami menjadi bagian dari brotherhood hehehe.

Masih terekam dalam ingatanku, pemandangan dari bawah jembatan dan becandaan jail kami tentang mobil pemabuk yang terbang dari jembatan dan menjatuhi kami. Juga pemandangan lalu lintas Jalan Dago dari ‘jongkok’ view. Sepulangnya dari sana, kami pun mendapat predikat baru sebagai anak nongkrong geng motor .

Wednesday, October 12, 2005

Seminggu Lewat

Bandung, 12 Oktober 2005

Udara dingin kota Kembang bertiup menusuk tulang. Bandung, sekali lagi, menjadi kota pelarian gue dari keruwetan kepala gue. Tempat gue mencari suasana, menggali inspirasi dan membuat hati menjadi lebih santai.

Seminggu lewat sudah gue menikmati hidup sebagai seorang pengangguran. Walaupun semua orang komentar terhadap keceriaan dan kesegaran wajah dan gestur gue, tapi tidak seluruhnya berbanding lurus dengan isi otak gue. Berbagai rencana tertanam di kepala, dan belum satupun yang gue jalankan. Frustasi, yang lebih didominasi oleh rasa kesal pada diri sendiri, membuat gue melihat cermin dengan pesimis. But hey...what the hell! This is the road that I chose, and I don’t regret it. Pengalaman ini membuat gue lebih menghargai sebuah aktifitas bekerja sebagai ritme kehidupan gue…bagaikan alat support jantung yang membuat detaknya menjadi lebih kuat.